Awal Puasa Ramadhan 1447 H/ 2026 Berpotensi Berbeda, Muhammadiyah Jatuh Pada Hari Rabu, 18 Februari 2026 dan Pemerintah Gunakan Metode Berbeda
- Berita
- Detail Berita
- By Administrator
- 16 Feb 2026 23:05:35
- Agama
- 40
Awal Puasa Ramadhan 1447 H/ 2026 Berpotensi Berbeda, Muhammadiyah Jatuh Pada Hari Rabu, 18 Februari 2026 dan Pemerintah Gunakan Metode Berbeda
Dr (c) Tomi Apra Santosa, S.Pd.,
M.Pd., C.Hope., C.IEC. Seorang Dosen sekaligus ketua LPPM Akademi
Teknik Adi Karya berpendapat penetapan awal Ramadhan 1447 H berpotensi
mengalami perbedaan antara Muhammadiyah dan pemerintah. Muhammadiyah
telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Rabu, 18 Februari
2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang selama ini menjadi
pedoman resmi organisasi tersebut. Metode ini menggunakan perhitungan
astronomis untuk menentukan posisi hilal tanpa menunggu hasil observasi
langsung di lapangan, sehingga keputusan dapat diumumkan jauh hari sebelum
bulan Ramadhan tiba.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama
menggunakan metode rukyat hilal yang dipadukan dengan hisab dalam proses sidang
isbat untuk menentukan awal bulan hijriah. Dalam praktiknya, pemerintah tetap
menunggu hasil pemantauan hilal di berbagai titik observasi di Indonesia
sebelum mengambil keputusan resmi. Pendekatan ini mengacu pada kriteria imkanur
rukyat yang mempertimbangkan aspek tinggi hilal dan elongasi sebagai syarat
visibilitas bulan sabit. Karena perbedaan metode tersebut, potensi perbedaan
penetapan awal Ramadhan 2026 menjadi hal yang mungkin terjadi.
Secara ilmiah, metode hisab dan rukyat sama-sama
memiliki dasar argumentasi fikih dan astronomi. Hisab menekankan kepastian
perhitungan matematis berbasis data astronomi modern, sedangkan rukyat
menitikberatkan pada konfirmasi empirik melalui observasi langsung. Perbedaan
pendekatan ini bukan merupakan perbedaan substansi ibadah, melainkan perbedaan
metodologis dalam menentukan awal waktu. Dalam sejarahnya, dinamika perbedaan
penetapan awal bulan hijriah telah beberapa kali terjadi di Indonesia dan menjadi
bagian dari keragaman praktik keagamaan.
Meski berpotensi berbeda, para ulama dan tokoh
agama terus mengimbau masyarakat untuk menyikapi perbedaan dengan sikap saling
menghormati dan menjaga persatuan. Pemerintah melalui sidang isbat akan
mengumumkan keputusan resmi setelah mempertimbangkan laporan rukyat dan data
hisab secara nasional. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat menjalankan
ibadah Ramadhan dengan penuh khidmat sesuai dengan keyakinan dan pedoman
masing-masing, sembari tetap menjaga ukhuwah dan kondusivitas sosial di tengah
keberagaman metode penetapan awal bulan hijriah.


